Jaringan korporat saat ini semakin dipenuhi oleh agen kecerdasan buatan (AI), menciptakan titik buta dalam tata kelola bagi para pemimpin yang mengelola infrastruktur multi-cloud. Unit bisnis yang berbeda berlomba-lomba mengadopsi teknologi generatif, mengakibatkan Chief Information Officer (CIO) menghadapi ekosistem yang diisi aset terfragmentasi dan tidak terpantau.
Situasi ini merefleksikan kembali tantangan "shadow IT" pada era cloud, namun dengan kompleksitas tambahan berupa entitas otonom yang mampu menjalankan berbagai fungsi tanpa pengawasan yang memadai, sehingga memerlukan panduan tata kelola yang komprehensif.