Pasar minyak global diperkirakan akan menghadapi kelebihan pasokan pada tahun 2025 dan 2026, didorong oleh peningkatan produksi dan pertumbuhan permintaan yang melambat. Analisis ini berdasarkan laporan utama World Bank, "October 2025 Commodity Markets Outlook".

Harga minyak menunjukkan volatilitas sepanjang tahun 2025. Harga Brent sempat naik 5 persen mendekati akhir bulan Oktober, mencapai sekitar $65 per barel, setelah Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap perusahaan minyak Rusia. Namun, secara keseluruhan, harga minyak cenderung menurun sepanjang tahun karena ketegangan kebijakan perdagangan dan kekhawatiran pasokan berlebih. Penurunan Brent turut menyebabkan harga Urals jatuh di bawah batas harga $60/bbl, yang kemudian diturunkan menjadi $47.6/bbl pada September.

Pertumbuhan permintaan minyak terus melemah. Pada Kuartal III 2025, permintaan minyak global hanya tumbuh 0,8 juta barel per hari (mb/d) atau 0,7 persen tahun-ke-tahun, menunjukkan pertumbuhan yang lamban dibandingkan rata-rata 2015-2019. Tren ini diperkirakan berlanjut, dengan proyeksi permintaan tahunan sebesar 103,8 mb/d pada 2025 dan 104,5 mb/d pada 2026. Konsumsi di negara-negara maju diprediksi stabil, sementara pertumbuhan di Tiongkok akan melambat karena adopsi kendaraan listrik dan hibrida yang pesat. India menjadi salah satu kontributor utama pertumbuhan permintaan, didorong oleh LPG, bensin, nafta, dan diesel.

Di sisi lain, pasokan minyak diproyeksikan meningkat pada 2025 dan 2026 seiring masuknya produksi baru. Output diperkirakan tumbuh 3,0 mb/d (2,9 persen) tahun-ke-tahun menjadi 106,1 mb/d pada 2025, dan naik menjadi 108,5 mb/d pada 2026. Peningkatan ini sebagian besar berasal dari target produksi yang lebih tinggi dari OPEC+, serta pertumbuhan pasokan di Timur Tengah dan Afrika Utara, Afghanistan, Pakistan (MNA), dan Amerika Latin dan Karibia (LAC), meskipun melambat di negara-negara maju.

Kombinasi antara lonjakan produksi dan pertumbuhan konsumsi yang lesu menciptakan surplus minyak global. Surplus implisit diperkirakan mencapai 2,7 mb/d pada Kuartal III 2025. Badan Energi Internasional (IEA) mengantisipasi surplus tahunan sebesar 2,3 mb/d pada 2025, yang akan meningkat drastis menjadi 4,0 mb/d pada 2026, melampaui surplus saat pandemi pada tahun 2020.

Proyeksi harga minyak Brent rata-rata $68/bbl pada 2025, turun menjadi $60/bbl pada 2026, lalu stabil di $65/bbl. Risiko terhadap perkiraan harga cenderung ke arah penurunan, namun beberapa faktor dapat memicu kenaikan harga:

  • Peningkatan target produksi OPEC+.
  • Ketegangan perdagangan yang memanas.
  • Ketidakpastian kebijakan yang meningkat.

Sementara itu, harga bisa melebihi proyeksi jika pasar lebih ketat dari perkiraan, misalnya karena:

  • Permintaan yang lebih kuat dari perkiraan dari konsumen non-OECD utama.
  • Pertumbuhan pasokan yang terbatas akibat pembatasan OPEC+ atau penurunan produksi AS.
  • Eskalasi konflik di Timur Tengah atau Ukraina.
  • Dampak sanksi tambahan, termasuk langkah-langkah AS baru-baru ini terhadap perusahaan minyak Rusia.